<$BlogRSDUrl$>

Saturday, March 13, 2004

CINTA SAHABATKU ...!!!

Persahabatan kami akhirnya berubah menjadi sebuah cinta yang tak terelakkan … tapi kami tidak lari dari kenyataan hati … kami menghadapinya. Aku berpikir dengan keterbukaan hati … mungkin aku bisa jadi sahabat dan pacar yang baik buat Lala. Mungkinkah ?? Kalau Lala menolak, apa aku masih bisa menjadi temannya ?

“La, aku sayang dan cinta sama kamu tapi bukan sebagai sahabat lagi” kataku lirih dan dengan suara agak pelan.

“Trus ?” jawabmu pendek.

“Ya … aku sayang dan cinta kamu sebagai seorang yang lain. La, aku serius nich … kamu mau nggak menjadi pacar dan sahabat yang baik buat aku ?” kataku setelah mengumpulkan seluruh kekuatan diriku untuk menatap mata Lala dan untuk tetap berdiri di depan Lala.

Sementara Lala terdiam, aku mencoba mengatur nafasku yang sudah tak teratur. Aku pikir, aku harus siap dengan segala resiko. Kalau Lala mau memutuskan hubungan persahabatan kami yang sudah sangat dekat, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Emang udah resiko yang nggak bisa dihindarkan walaupun ku berusaha keras menghindarinya. Wajarkah hal ini terjadi ? Wajarkah suatu tali persahabatan menjadi tali cinta ? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikiranku sejak 3 bulan lalu … sebelum aku berani mengungkapkan isi hatiku pada Lala.

“Hmm…Adri … kamu perlu jawaban dari aku kapan ? Bisa kasih aku waktu sebulan untuk berpikir ?” jawab Lala dengan tenang.

Ups !! Nggak nyangka Lala begitu dewasa menanggapi hal ini. Aku sampai terpana. Aku makin sayang dan cinta aza sama Lala.

“Adri … Adri ….” Lala mencoba menyadarkan lamunanku.

“I..i..iya… boleh La, kamu pikir-pikir dulu dech. Aku nggak mau kamu jawab buru-buru kok. Silahkan kamu pikir dan pertimbangkan. Semua keputusan ada di tangan kamu.” jawabku buru-buru dan aku berusaha mengatur kata-kataku supaya tetap terlihat tenang,

“Ya udah. Tapi ada satu hal penting yang aku mau minta tolong sama kamu. Dan kamu harus mentaati permintaanku ini. Gimana ?” tanya Lala.

“Ok, permintaan apapun akan aku turuti kalau aku bisa” jawabku senang.

“Gini Dri, kamu nggak boleh menjauh dan mencoba menghindar dari aku kalau ternyata nanti aku menyatakan nggak mau jadi pacar kamu. Kamu harus tetap jadi sahabat aku. Bahkan kalau bisa kita benar-benar bisa menjadi sahabat yang sejati. Dan aku nggak akan memberi kamu waktu selama 1 minggu untuk menenangkan hatimu dan setelah itu kembali lah seperti biasa. Kalau aku setuju untuk jadi pacar kamu, berarti nggak ada masalah. Gimana, kamu bisa memenuhi permintaanku ini ?” jelas Lala panjang lebar.
“Hmm…hm..oke dech Lala. Demi kamu … aku berdoa supaya kamu mengambil keputusan yang tepat ya. Aku boleh ada permintaan juga nggak ?” kataku.

“Boleh lah Dri. Kamu ada permintaan apa ? Tapi kok kesannya ‘nyontek’ aku sich ?” jawab Lala dengan senyum manisnya.

“La, gimana kalau kita sama-sama berdoa Novena Tiga Salam Maria mulai hari ini selama 9 hari. Ya, untuk memantapkan keputusan kamu nantinya sich. Dan kita doa pada jam yang sama, jam 9 malam. Gimana ? Setuju nggak ? Kalau nggak setuju ya nggak apa-apa sich” kataku nyerocos.

“Usul yang bagus Dri. Oke dech, sekarang kamu pulang dan ingat ya mulai malam ini kita “bertemu di udara”, apapun hasilnya .. itu kehendakNya,” jawabmu dengan garing.

Kami sama-sama tertawa. Tak ada beban diantara kamu. Tapi memang menjadi pikiran kami … kami bisa menjalaninya dengan baik karna kami memang sudah kenal dekat satu dengan yang lain. Nggak ada jaim alias jaga image. Biarlah semuanya berjalan apa adanya .. !!!

Walaupun sangat berat bagi kita berdua untuk menjalani Novena, kami tetep berusaha keras. Di saat Adri bolong2, dia pasti ngaku, begitu juga sebaliknya. Kita ulang terus sampai berhasil menjalaninya. Biar lebih mantap dalam mengambil keputusan.

Akhirnya waktu 1 bulan sudah berlalu dan apa yang terjadi, Lala gak pernah memberikan jawaban. Sedangkan aku gak berani bertanya. Haruskah aku bertanya ke Lala ??? Padahal kan seharusnya Lala dah tau kalo waktu 1 bulan itu udah abis. Aduuhh… apa yang musti kulakukan ? Maunya sich tegas ke Lala, tapi aku gak sanggung mengungkapkannya nich. Kudu nyari waktu yang tepat pikirku.

Apakah biasanya cewek seperti itu ? Gak tau juga ya … Selalu menghindar dan pura-pura gak terjadi apa-apa gitu ? Seribu pertanyaan mulai menghampiri pikiranku yang udah padat ini.

Daripada tebak menebak apa isi hati Lala, akhirnya aku bisa mengumpulkan seluruh nyawaku untuk mulai bertanya dulu. Gak disangka, Lala memulai ceritanya soal doeloe kala, saat aku ketemu dengannya pertama kali. Wah, bakal lama nich, tapi tetap coba untuk berpikiran positif. Mencoba menangkap ceritanya dan menyimpulkan dulu jawaban Lala ini bakal positif or negatif.

“Dri, ingat saat kita ketemu dulu ?” kata Lala memulai cerita.

“Yupi, aku pasti ingatlah, La. Dan gak akan terlupakan karna saat itu aku meremehkan kamu.”, ucapkan gak enak hati.

“ Hmm…itu udah lama ya, 9 tahun yang lalu. Waktu terasa bergulir cepat. Gak bisa diulang, tapi memoriku masih bisa terbayang jelas, saat kamu menatapku dengan tampang meremehkan aku dan mentertawakan aku saat aku menyampaikan visi misi ku di organisasi ini.”, lirih Lala semangat dan menggebu-gebu.

Lala meneruskan ceritanya … Kamu ingat kan kita selalu seperti anjing dan kucing setiap hari. Kalo ketemu, pasti berantem. Ada aza yang dimarah-marahi. Pasti sesuatu yang baru yang jadi bahan berantem kita. Kamu mentang-mentang punya jabatan yang lebih tinggi, mulai menekan. Tapi kan kamu gak nyangka kalo aku orangnya keras kepala banget. Kita berdua selalu berselisih pendapat. Tapi emang dasar kita cuek, makanya gak pernah dipikirin. Itu berlangsung selama 6 tahun. Buset kan … lama banget.

Tapi aku malah berpikir kenapa ya kita bisa berteman sampai sekarang. Dan kita malah jadi dekat banget satu sama laen, suka curhat juga. Seakan-akan aku mengenal pribadimu lebih baek dibanding siapapun. Gak tau deh kamu merasakan hal itu ??? Kalo ada yang coba memojokkan kamu, aku siap jadi pembelamu. Sebenarnya aku gak pernah menyadari hal ini setelah kamu mengungkapkan perasaan kamu sebulan yang lalu.

Dan aku juga baru sadar kalo aku sering membela kamu kalo ada yang mencela kamu setelah banyak teman-teman kita yang terheran-heran dengan tingkah laku aku. Mereka pada bingung, kita sering berantem, tapi kalo ada salah satu yang dicela, pasti deh kita saling membela satu sama laen. Gak tau kamu juga menyadari hal ini ???

Mengenai perasaan kamu ke aku saat ini, aku sebenarnya berat menghadapi dan menjawab pertanyaan kamu. Selama sebulan ini aku jadi berpikir keras soal persahabatan kita, soal perasaan aku yang sebenarnya. Setelah pergumulan perasaanku selesai, aku malah bingung harus memulai darimana untuk menjawab perasaanmu itu. Mau ngomong duluan, gengsi juga. Tapi tetap berusaha mencari waktu yang tepat. Untung aza kamu bisa membaca gelagat aku yang pura-pura gak terjadi apa-apa.

“Dri … Dri …., kamu kenapa ?” kata Lala kaget melihat reaksiku yang aneh.

“Yupe … Lala, ku coba mengatur volume suaraku agar gak tertangkap basah kalo aku terkagum-kagum dengan analisanya yang panjang kali lebar itu. Benar-benar gak nyangka kalo Lala yang cuek bisa bersikap dewasa kayak gini.

“La, kamu tau gak kalo aku selalu yakin dan percaya kalo kamu selalu membawa solusi yang terbaik. Apapun itu jawaban kamu. Aku ngerasa nyaman dan damai aza ada didekat kamu. Gak tau deh kamu juga pernah merasakan hal seperti ini ?” celotehku sesudah mampu mengontrol hatiku.

“ Kamu pasti sedang menduga-duga jawabanku kan ? Jawabanku : Kita tetap jadi teman dekat. Hanya sebatas teman saja. Gak lebih. Kamu tau kenapa ? Setelah aku menggali perasaanku, gak ada rasa cinta disana. Ada rasa sayang, tapi itu sebatas teman. Selama ini aku sangat sangat memperhatikan kamu, hanya karna aku sayang kamu sebagai teman. Kita tetap berteman kan, Dri ?” ujar Lala mantap.

“Thanks ya, La. Aku tetap menjadi teman kamu. Teman berbagi suka dan duka. Trima kasih kamu udah menyentil aku, membuatku tersadar kalo kita lebih baik hanya sebagai teman saja. Aku jadi tenang karna udah dapat jawaban dari kamu dan aku berharap kita masih bisa seperti dulu. Tapi La, please kasih waktu seminggu untuk aku menempel kembali semua hatiku yang retak-retak ini”, ujarku sambil tertawa lirih.

“Oke, gak masalah. Yang penting komitmen kamu untuk persahabatan kita. Thanks juga udah bisa ngerti. Tadinya aku malah pikir, kamu akan meninggalkan aku dan langsung aza pergi begitu mendengar kalo aku hanya mau jadi teman,” Lala menjawab dan sambil tersenyum manis ke arahku.

Sambil berlalu, Lala bilang gini : Cinta sahabat yang sejati adalah dimana kedua belah pihak sama-sama bisa mengalahkan EGO-nya untuk kepentingan satu sama lain. Kalo kita masing-masing udah punya pacar berarti Cinta yang sejati itu dimana kedua belah pihak mampu mengalahkan EGO untuk kepentingan pasangan kita masing-masing.

Thanks for being my friend, La … !!!!


Created by :
-jc / 12 March 2004


This page is powered by Blogger. Isn't yours?